TAMBANG BATU BARA KALSEL SEMBAHKAN SURGA ATAU NERAKA

Banjarmasin, 25/1 (ANTARA) -Kawasan Propinsi Kalimantan Selatan yang dikenal memiki cadangan bahan tambang melimpah, khususnya batu bara telah menggairahkan berbagai kalangan mengeksploitir bahan galian yang disebut pula sebagai “emas hitam” tersebut.

Bukan saja perusahaan pertambangan skala besar yang berlomba mengeruk bahan tambang yang tak bisa diperbarui tersebut, juga ratusan perusahaan kecil serta individu yang ikut berebut mengambil untung dari usaha “emas hitam” itu.
Perusahaan skala besar yang mengelola tambang batu bara di Kalsel berdasarkan Perjanjian Kerjasama Pengembangan Pertambangan Batu Bara (PKP2KB) ada beberapa buah diantaranya PT. Adaro Indonesia, PT. Arutmin Indonesia, PT. Bantala Coal Mining, dan beberapa lagi.

Sementara perusahaan kecil melalui izin Kuasa Pertambangan (KP) yang diberikan oleh kabupaten/kota menyusul adanya era otonomi daerah yang jumlah perizinnanya ratusan buah. Belum termasuk ratusan perusahaan penambangan tanpa ijin (Peti) yang dilakukan secara kelompok atau perorangan yang sangat menyemarakkan usaha pertambangan batu bara di Kalsel tersebut.

Merebaknya tambang batu bara di “bumi Pangeran Antasari” Kalsel tersebut menimbulkan gairah di bidang ekonomi, dimana devisa terus saja mengalir dari hasil ekspor tambang itu dengan tujuan berbagai negara di dunia.
Catatan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kalsel sekitar 60 persen nilai ekspor non migas asal propinsi tersebut atau sekitar 1,5 miliar Dolar AS per tahun berasal dari ekspor tambang batu bara. Bukan saja untuk ekspor, ternyata hasil tambang batu bara Kalsel tersebut kini diperebutkan pula untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT. PLN (Persero) seperti PLTU Suryalaya Jawa Barat, PLTU Paiton Jawa Timur, dan PLTU Asam-Asam Kalsel sendiri, disamping untuk kebutuhan industri lainnya di tanah air.

Oleh sebab itu, banyak kalangan yang telah mampu meningkatkan tingkat kesejahteraan hidup mereka secara meteriil setelah memperoleh porsi dari mengelola tambang batu bara tersebut. Tak heran bila dalam suatu wilayah yang tadinya termasuk relatif miskin berubah menjadi kawasan yang kaya raya, seumpamanya saja kawasan Kecamatan Satui dan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Pegaron Kabupaten Banjar, Jorong Kabupaten Tanah Laut, beberapa wilayah di Kabupaten Tapin, Kotabaru, Balangan, dan Kabupaten Tabalong.

Banyak warga yang tadinya hanya sebagai petani atau buruh atau pedagang kecilan serta pegawai negeri sipil (pns) rendahan sekarang berubah menjadi “saudagar kaya”. Tadinya hanya memanggul cangkul sekarang sudah bergaya, memakai mobil mewah Land Cruser, Ford Ranger, BMW, Mercides Bend dan mobil mewah lainnya.
Bahkan sebagian rakyat yang selama ini miskin juga terkena imbasnya dengan meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut.</p>
Mengalirnya uang hasil tambang di tengah masyarakat tersebut, masyarakat yang berusaha kecil-kecilan juga ikut berkembang. Begitu banyak buruh tambang serta pengusaha tambang yang tidak pelit berbelanja. Akibatnya dagangan beras. ikan, sayur mayur, serta hasil pertanian milik masyarakat menjadi laku.

Di kawasan Kota Paringin, Kabupaten Balangan, dimana beroperasinya sebuah perusahaan pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia yang berhasil mengeruk tambang sedikitnya 20 juta ton per tahun telah memperkerjakan ribuan karyawan, buruh tambang dan pekerja kantor lainnya.

Begitu pula misalnya di Sungai Danau, ibukota Kecamatan Satui tempat beroperasinya PT. Arutmin Indonesia dengan produksi sudah mencapai 16 juta ton per tahun juga mengerja ribuan buruh dan karyawan.

Para pekerja tambang yang memilkiki uang tersebut berani berbelanja dengan tidak menawar, akibatnya harga berbagai kebutuhan pokok menjadi terdongkrak, harga rumah dan sewa rumah naik, harga tanah melonjak, sedang tingkat keramaian pasar meningkat drastis.

Begitu banyaknya perusahaan tambang besar dan kecil serta individu di Kalsel telah memberikan lapangan kerja yang sangat besar, dimana ribuan orang terserap untuk menjadi buruh tambang, seperti pengemudi alat berat, mekanis, sopir truk, pekerja kantor, serta buruh tambang kasar lainnya.

Sementara rakyat yang memiliki lahan juga banyak yang kaya mendadak, dimana lahan-lahan yang terkena proyek tambang diganti rugi dengan nilai yang mahal.
Sehingga tak heran lahan-lahan yang tadinya tak bertuan kini dipatok oleh orang-orang tertentu, kemudian lahan tersebut dianggap milik mereka dengan berharap lahan itu nantinya terkena proyek tambang lalu meminta ganti rugi.

Dengan perkembangan pertambangan batu bara yang pesat tersebut maka Pemerintah Propinsi (Pemprop) Kalsel optimis perekonomian daerahnya akan terus meningkat, bahkan gubernur setempat, H.M. Sjachriel Darham berani mematok tingkat pertumbuhan ekonomi di propinsi berpenduduk tiga juta jiwa lebih itu bisa enam persen per tahun.

Di balik gemerlapnya hasil yang diperoleh dari pertambangan tersebut ternyata telah melahirkan tingkat kerisauan yang mendalam di benak banyak orang, terutama kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lingkungan dan pecinta lingkungan itu sendiri.

Dari hasil diskusi Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Lingkungan Hidup (PWLH) Banjarmasin yang menghadirkan LSM dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), Kompas Borneo, dan LSM lainnya itu banyak menyoroti mengenai pertambangan batu bara tersebut, bahkan muncul kekhawatiran akan dampak dahsyat bencana alam akibat maraknya pertambangan itu.

Menurut diskusi tersebut perubahan alam Kalsel kini sudah terasa dampaknya akibat tambang batu bara. Bagaimana tidak, di kawasan daratan Kalsel yang dikenal dengan bentuk Rumah Bubungan Tinggi itu telah hancur, selain hutan gundul karena penebangan kayu secara membabi buta, sekarang ditambang pertambangan batu bara yang tak terkendali.

Bahkan terungkap ternyata wilayah resapan air berupa hutan tropis basah di Pegunungan Meratus kini telah tercabik-cabik oleh pertambangan batu bara baik yang legal atau ilegal yang dikelola pihak preman-preman.

Di kawasan pertambangan PT. Adaro Indonesia saja terdapat beberapa buah tandon raksasa atau kawah besar bekas tambang yang menyebabkan bumi menganga tak mungkin bisa direklamasi, akhirnya dibiarkan begitu saja.

Begitu juga di kawasan Satui dimana PT. Arutmin beroperasi terdapat lubang-lubang pula namun agak sedikit baik karena perusahaan ini berhasil mereklamasinya sebab tambang di sini tak dalam, tetapi telah menyebabkan alam berganti menjadi hutan buatan hasil reboisasi perusahaan tetapi telah menghilangkan hutan alam penjaga lingkungan.

Yang paling parah terlihat di ratusan bahkan ribuan hektare lahan bekas tambang Peti yang dikelola masyarakat baik perusahaan kecil atau individu. Lahan-lahan mereka tersebut digali, kemudian diambil batu baranya lalu bekas tambang itu dibiarkan rusak parah begitu saja tanpa adanya reklamasi seperti terlihat di berbagai wilayah.

Dampak yang terasa dari lahan yang rusak demikian adalah bila hujan sedikit saja maka air di atas gunung begitu deras turun tanpa bisa ditahan, dan air yang turun bukan lagi air hujan jernih melainkan telah bercampur dengan lumpur dan debu batu bara.
Bahkan sekarang ini Sungai Martapura yang berhulu di Pegunungan Meratus yang dulunya biru telah berubah tingkat warna dan kekeruhan akibat pertikel lumpur dan material lainnya.

Sampai-sampai alat pengukur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin yang mengambil air sungai tersebut sebagai bahan baku tak bisa lagi mengukurnya, lantaran tingginya tingkat kekeruhan dan warna itu.

Hasil sebuah penelitian begitu tingginya tingkat kekeruhan dan warna air Sungai Martapura tersebut ternyata air itu telah mengandung sejenis kaolin yakni bahan kimia yang berasal dari tambang batu bara. Bukan hanya itu tambang batu bara di Kalsel telah mengubah tingkat polusi udara dan debu di berbagai wilayah Kalsel.

Kota Banjarmasin saja yang jauh dari lokasi tambang telah mewaspadai pencemaran udara akibat debu dari tambang batu bara tersebut. Ada beberapa titik yang tingkat pencemaran debu batu bara di atas ambang normal seperti diakui Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) Kota Banjarmasin, Hesly Junianto,SH.
Kawasan dimaksud seperti di Pelambuan dimana terdapat stockpile (lapangan penumpukan batu bara) serta simpang empat Jalan Lambung Mangkurat depan kantor Pos Besar Banjarmasin.

Kota Banjarmasin ternyata terkena dampak lingkungan yang sangat dahsyat akibat tambang itu karena ribuan mobil truk pengangkutnya menuju pelabuhan di Banjarmasin melalui jalan-jalan umum di dalam kota ini.

Dampak lain penambangan marak tersebut, adalah banyak jalan negara yang sebenarnya dalam peraturan tak dibolehkan dilewati truk pengangkut batu bara kini tetap menjadi jalur pengangkutan sehingga jalan tersebut rusak parah.

Contoh saja jalan trans Kalimantan antara Kabupaten Tapin hingga Banjarmasin yang yang mengalami kerusakan parah seperti degradasi, berlubang, longsor, becek, bergelombang, akibat tak mampu menahan beban berat pengangkutan batu bara tersebut. Karena ribuan truk besar setiap hari melalui jalan nasional (negara) itu.

Kerisauan kerusakan jalan tersebut telah menimbulkan gelombang unjukrasa di masyarakat, termasuk penutupan jalan nasional oleh masyarakat yang tak ingin jalan itu dilalui truk pengangkut batu bara, seperti terjadi di Tapin, Tanah Bumbu dan Kabupaten Balangan.

 

Sumber: https://hasanzainuddin.wordpress.com/2007/11/03/43/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s